“Catatan Dari Lorong Puskesmas Cilacap, 1995“
Oleh : Ir. Amin Mujito
Cilacap, Mataconews.id – Ada tempat-tempat yang tidak pernah masuk buku sejarah, tetapi diam-diam ikut
menjaga kehidupan sebuah bangsa. Tempat yang tidak memiliki monumen, tidak memiliki tugu peringatan, dan tidak pernah menjadi lokasi kunjungan pejabat.
Namun setiap hari tempat-tempat itu menjadi ruang hidup bagi orang-orang yang
bekerja sejak matahari belum terbit dan pulang ketika langit hampir gelap. Pasar
tradisional adalah salah satunya.
Pada pertengahan tahun 1995, kehidupan berjalan seperti biasa di sebuah sudut
Cilacap. Pagi masih gelap ketika Mat Basur sudah berada di pematang sawah. Embun
menempel di ujung daun padi, sementara angin kecil bergerak perlahan membawa
aroma tanah basah yang masih menyimpan sisa hujan malam sebelumnya. Dari
kejauhan terdengar suara sepeda yang melintas menuju pasar dan suara ayam jantan
yang saling bersahutan dari kampung-kampung sekitar.
Sawah yang ia garap bukan miliknya. Sejak muda ia terbiasa menanam di tanah orang
lain, membajak, menanam, membersihkan rumput, menjaga tanaman dari hama, lalu
menunggu musim panen datang. Ketika panen tiba, hasilnya dibagi dengan pemilik
lahan. Tidak banyak yang tersisa, tetapi cukup untuk membuat dapur tetap menyala
dan kehidupan terus berjalan. Mat Basur tidak pernah banyak bicara tentang hidup.
Barangkali karena sebagian besar waktunya habis untuk menjalaninya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari sawah tempat Mat Basur bekerja, seorang
perempuan sedang membuka kios kecilnya di pasar tradisional. Namanya Siyem.
Kios yang ditempatinya berada di lorong bagian dalam pasar dan lebarnya hanya
beberapa langkah orang dewasa. Di kiri dan kanan tergantung daster, sarung, baju
anak-anak, celana murah, dan berbagai pakaian rumahan yang menjadi kebutuhan
masyarakat sekitar. Kios itu tidak memiliki etalase mewah, pendingin ruangan,
ataupun papan nama besar. Hanya sebuah ruang sempit yang setiap hari menjadi
tempat Siyem mencari nafkah dan membantu menjaga kehidupan keluarganya tetap
berjalan.
Siyem bukan perempuan yang mudah menarik perhatian karena pakaian atau
perhiasan. Kehidupan tidak memberinya kemewahan untuk memikirkan hal-hal
semacam itu. Daster yang dikenakannya sederhana, sandalnya tipis, dan tangannya
mulai kasar karena terlalu sering mengangkat serta menata barang dagangan. Namun
hampir semua pedagang mengenalnya sebagai perempuan yang cantik secara
alamiah, bukan cantik yang lahir dari riasan, melainkan dari kelembutan wajah dan
kesederhanaan sikapnya. Ketika berjalan melewati lorong pasar, ia hampir selalu
sedikit menundukkan kepala, menyapa seperlunya, tersenyum kecil, lalu kembali
mengurus pekerjaannya sendiri. Banyak pedagang mengenalnya sebagai perempuan
yang santun dan tidak banyak bicara. Jika ada perselisihan di pasar, ia jarang ikut
campur. Jika ada tetangga yang membutuhkan bantuan, ia lebih sering membantu
daripada bercerita tentang kebaikannya sendiri.
Pagi itu perutnya sudah sangat besar. Beberapa pedagang yang kiosnya berdekatan
berkali-kali menyuruhnya pulang karena khawatir melihat kondisinya yang sudah
mendekati waktu persalinan.
“Yem, kowe mulih dhisik. Wetengmu wis gedhe ngono.”
(“Yem, pulanglah dulu. Perutmu sudah sebesar itu.”)
Siyem hanya tersenyum sambil tetap merapikan pakaian yang tergantung di depan
kios.
“Sedhela maning. Isih ana sing arep tuku.”
(“Sebentar lagi. Masih ada yang mau membeli.”)
Para pedagang hanya menggelengkan kepala. Mereka sudah mengenal sifat Siyem
sejak lama. Perempuan itu selalu berusaha bertahan selama masih mampu berdiri,
dan selama masih ada pekerjaan yang bisa dilakukan, ia akan menyelesaikannya
terlebih dahulu sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Menjelang siang, pasar mulai penuh. Suara tawar-menawar terdengar dari berbagai
arah. Troli besi berdecit melewati lorong-lorong sempit. Bau kopi dari warung dekat
pintu masuk bercampur dengan aroma kain baru, sayuran basah, dan keringat
manusia yang memenuhi udara pasar. Orang-orang datang dan pergi silih berganti,
sementara kehidupan bergerak sebagaimana biasanya. Tidak ada yang menyangka
bahwa pagi yang tampak biasa itu akan menjadi hari yang tidak pernah dilupakan
oleh keluarga Mat Basur.
Rasa nyeri itu datang ketika pasar sedang berada pada puncak kesibukannya.
Awalnya pelan, seperti rasa tidak nyaman yang masih bisa ditahan. Namun beberapa
menit kemudian rasa sakit itu semakin kuat. Tangan Siyem berpegangan pada tiang
kios, napasnya mulai memburu, dan wajah yang biasanya tenang perlahan
kehilangan warna. Ia mencoba bertahan sambil tetap berdiri, tetapi tubuhnya tidak
lagi mampu mengikuti keinginannya. Dalam hitungan detik, keseimbangannya
hilang dan ia terduduk di lantai kios yang sempit.
Kerumunan segera terbentuk. Para pedagang yang sejak tadi berjualan meninggalkan
dagangannya sejenak untuk membantu. Ada yang mengambil air minum, ada yang
memanggil bidan, ada yang berlari mencari Mat Basur, dan ada pula yang membantu
menutup sebagian kios agar barang dagangan tidak tercecer. Suasana pasar yang
sebelumnya dipenuhi suara tawar-menawar mendadak berubah menjadi kepanikan
yang bergerak dari satu lorong ke lorong lain.
Namun satu persoalan segera muncul.
Mereka membutuhkan kendaraan.
Dan pagi itu, ternyata mencari kendaraan lebih sulit daripada yang dibayangkan.
Di dekat pintu pasar, sebuah Toyota Kijang Super berwarna biru tua terparkir bersih
mengilap. Mobil itu cukup dikenal oleh para pedagang karena merupakan milik salah
seorang pemilik toko yang tergolong lebih berada dibanding kebanyakan warga
pasar. Beberapa orang segera menghampirinya dengan harapan ia bersedia
membantu mengantar Siyem ke puskesmas.
“Pak, tulung nggih. Bu Siyem arep lahiran. Kula nyuwun dipun antar dhateng
puskesmas.”
(“Pak, tolong. Bu Siyem mau melahirkan. Kami mohon diantar ke puskesmas.”)
Lelaki itu menoleh sebentar ke arah kerumunan. Pandangannya lalu bergeser ke arah
mobil yang baru saja selesai dicuci sehari sebelumnya. Ia tampak ragu beberapa saat
sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Maaf, mobilku lagi resik. Mengko jok-e dadi reged.”
(“Maaf, mobil saya baru bersih. Nanti joknya jadi kotor.”)
Tidak ada yang menjawab.
Orang-orang hanya saling berpandangan. Sebagian menunduk. Sebagian lagi kembali
memandang ke arah Siyem yang semakin kesakitan. Tidak ada waktu untuk
memperdebatkan jawaban itu. Yang mereka butuhkan adalah pertolongan,
sementara waktu terus berjalan tanpa mau menunggu siapa pun.
Kontraksi yang dialami Siyem semakin kuat. Sesekali terdengar erangan tertahan dari
bibirnya. Beberapa perempuan yang berada di dekatnya berusaha menenangkan,
tetapi kecemasan mulai terlihat di wajah mereka. Dalam keadaan seperti itu, beberapa
menit terasa jauh lebih berharga daripada berbagai nasihat dan pidato tentang
kepedulian yang sering didengar orang-orang kecil.
Di tengah kebingungan tersebut, suara mesin tua terdengar dari arah belakang pasar.
Sebuah pikap tua berwarna kusam masuk perlahan ke area bongkar muat. Catnya
sudah memudar dimakan usia, beberapa bagian bodinya terlihat penyok, sementara
bak belakangnya masih dipenuhi sisa-sisa tepung, kardus bekas, dan karung
belanjaan yang belum sempat dibersihkan. Kendaraan itu jauh dari kata bagus, tetapi
setiap hari menjadi teman setia seorang pedagang kelontong yang mengantarkan
barang ke berbagai sudut kota.
Pengemudinya adalah Babah Acon.
Seorang pedagang tua yang sudah puluhan tahun hidup di antara lorong-lorong
pasar dan mengenal hampir semua orang yang mencari nafkah di tempat itu. Begitu
mendengar kabar tentang Siyem, ia segera mematikan mesin lalu turun dari mobil.
“Ana apa?”
(“Ada apa?”)
Seseorang segera menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Babah Acon
mendengarkan tanpa banyak bertanya. Ia hanya menoleh sebentar ke arah pikap
tuanya merk Daihatsu Hijet 1000, kemudian kembali memandang kerumunan yang
mulai panik.
“Wis, nganggo mobilku bae. Cepet digawa nang puskesmas.”
(“Sudah, pakai mobil saya saja. Cepat bawa ke puskesmas.”)
“Tapi, Bah… mobilé reged.”
(“Tapi, Bah… mobilnya kotor.”)
Babah Acon tersenyum tipis.
“Nek wong lagi butuh pitulungan, sing penting tekan dhisik. Reged bisa dicuci
maneh.”
(“Kalau orang sedang membutuhkan pertolongan, yang penting sampai dulu. Kotor
bisa dibersihkan lagi.”)
Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kalimat yang dibuat untuk terdengar bijak. Ia
hanya membuka pintu mobilnya dan membantu orang-orang mengangkat Siyem.
Dalam keadaan seperti itu, tindakan jauh lebih berarti daripada kata-kata.
Beberapa saat kemudian pikap tua itu meninggalkan pasar. Mesin tuanya meraung
pelan melewati jalan-jalan kota yang masih basah oleh hujan pagi. Di bak belakang,
karung-karung tepung bergeser setiap kali roda menghantam lubang. Bau tepung,
solar, dan kayu basah bercampur menjadi satu, memenuhi ruang sempit yang kini
membawa harapan sebuah keluarga menuju puskesmas terdekat.
Mat Basur duduk di samping istrinya. Tangannya menggenggam jemari Siyem yang
mulai dingin. Sesekali ia menatap wajah perempuan yang selama ini menemaninya
menjalani hidup, wajah yang kini pucat menahan rasa sakit. Untuk pertama kalinya
pagi itu ia benar-benar merasa takut. Bukan takut kehilangan pekerjaan. Bukan takut
kehilangan sawah garapan. Ia takut kehilangan perempuan yang selama ini berjalan
bersamanya menghadapi segala kesulitan.
Pandangannya kemudian jatuh ke arah punggung Babah Acon yang sedang menyetir
di depan. Lelaki tua itu tampak biasa saja, seolah apa yang sedang dilakukannya
bukan sesuatu yang istimewa. Namun di dalam hati Mat Basur, sesuatu mulai
tumbuh perlahan. Jika suatu hari Tuhan memberinya rezeki yang lebih baik, ia ingin
memiliki kendaraan sendiri. Bukan untuk pamer. Bukan untuk dihormati orang. Ia
ingin memiliki kendaraan agar tidak ada lagi warga kampung yang kebingungan
mencari pertolongan seperti yang mereka alami pagi itu, agar tidak ada lagi orang
kecil yang harus menunggu belas kasihan orang lain ketika keadaan darurat datang
tanpa permisi.
Niat itu tidak pernah diucapkannya kepada siapa pun.
Ia hanya menyimpannya diam-diam di dalam hati, sebagaimana banyak harapan
rakyat kecil yang lahir tanpa suara dan tumbuh dalam kesunyian.
Pikap tua itu akhirnya berhenti di halaman puskesmas. Hujan masih turun tipis,
meninggalkan genangan kecil di beberapa sudut halaman yang tanahnya belum
sepenuhnya mengering. Mat Basur turun lebih dahulu, lalu bersama beberapa warga
membantu mengangkat Siyem yang kini sudah hampir tidak mampu berdiri.
Wajahnya pucat. Keringat bercampur air hujan membasahi pelipisnya. Setiap langkah
menuju ruang pelayanan terasa seperti perjuangan yang semakin berat.
“Bu… tulung, Bu. Sampun mboten kuat. Koyone sampun arep lahiran.”
(“Bu… tolong, Bu. Sudah tidak kuat. Sepertinya sudah mau melahirkan.”)
Seorang petugas yang berada di balik meja pelayanan menoleh sekilas.
Pandangannya tidak langsung tertuju kepada Siyem yang menahan sakit, melainkan
kepada Mat Basur yang berdiri kebingungan di sampingnya.
“KTP-nya mana?”
Pertanyaan itu membuat Mat Basur terdiam beberapa saat. Pagi tadi ia berangkat ke
sawah seperti biasa. Ketika mendengar kabar dari pasar, ia berlari tanpa sempat
kembali ke rumah. Baju yang dikenakannya masih penuh bercak lumpur sawah. Yang
ada di pikirannya saat itu hanyalah menyelamatkan istrinya.
“KTP pasien sama KTP suami.”
“Mboten nggawa, Bu.”
(“Tidak membawa, Bu.”)
Petugas itu kembali membuka berkas di hadapannya.
“Kartu berobat ada?”
Mat Basur menggeleng pelan.
“Penanggung jawab pasien siapa?”
“Alamat lengkapnya mana?”
“Sudah pernah berobat di sini belum?”
Pertanyaan demi pertanyaan terus datang. Sementara itu, di belakang mereka, Siyem
mulai mengerang semakin keras. Tubuhnya membungkuk menahan kontraksi yang
datang bergelombang. Seorang perempuan yang ikut mengantar mendekat dengan
wajah cemas.
“Bu, ketubanipun kadosipun sampun pecah.”
(“Bu, sepertinya air ketubannya sudah pecah.”)
Namun pertanyaan tetap berlanjut.
Ruangan itu mendadak terasa sempit. Di satu sisi ada seorang perempuan yang
sedang berjuang melahirkan. Di sisi lain ada formulir, kolom-kolom administrasi, dan
berbagai pertanyaan yang seolah tidak mengenal keadaan darurat. Mat Basur berdiri
kaku. Ia tidak marah. Ia tidak tahu harus marah kepada siapa. Yang ia rasakan
hanyalah kebingungan karena tidak memahami apa yang harus dijawab lebih dahulu
sementara istrinya semakin kesakitan di sampingnya.
Pada saat itulah langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Babah Acon masuk ke dalam ruangan sambil membawa payung yang masih basah
oleh hujan. Matanya langsung tertuju ke arah Siyem yang tampak semakin lemah.
Setelah melihat keadaan di depannya, ia menoleh ke arah petugas.
“Lha kok durung ditangani?”
(“Lho kok belum ditangani?”)
Petugas mencoba menjelaskan.
“Masih pendataan, Pak.”
Babah Acon memandang sejenak ke arah meja administrasi, lalu kembali melihat
Siyem yang terus menahan rasa sakit.
“Wong ketubané wis pecah kok isih didata terus.”
(“Orang air ketubannya sudah pecah kok masih didata terus.”)
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak.
Namun untuk pertama kalinya pagi itu, suara Babah Acon terdengar tegas.
“Ditulung dhisik. Urusan biaya, surat-surat, lan administrasi ben mengko aku sing
ngurus.”
(“Tolong dulu pasiennya. Urusan biaya, surat-surat, dan administrasi biar nanti saya
yang urus.”)
Petugas dan beberapa orang di ruangan itu saling berpandangan. Tidak lama
kemudian, dua orang bidan segera datang membawa kursi roda. Siyem langsung
dibawa menuju ruang persalinan tanpa menunggu pertanyaan lain.
Beberapa menit kemudian pintu ruang persalinan tertutup perlahan.
Mat Basur hanya sempat melihat sekilas wajah istrinya sebelum para bidan
membawanya masuk ke dalam. Setelah itu yang tersisa hanyalah ruang tunggu yang
sunyi dan perasaan cemas yang sulit dijelaskan. Ia duduk di kursi plastik yang mulai
kusam dimakan usia. Kedua tangannya saling menggenggam erat. Sesekali ia
menatap pintu ruang persalinan. Sesekali ia menunduk, berusaha menenangkan
pikirannya sendiri.
Di luar, hujan masih turun perlahan di atas halaman puskesmas yang becek. Sebagian
warga yang ikut mengantar mulai kembali ke pasar karena pekerjaan mereka
menunggu. Kios harus dibuka kembali. Dagangan harus dijaga. Kehidupan tetap
berjalan sebagaimana biasanya. Namun ada satu orang yang memilih tetap tinggal.
Babah Acon.
Lelaki tua itu duduk di bangku kayu dekat jendela sambil mengisap rokok kreteknya
perlahan. Sesekali ia berdiri, berjalan beberapa langkah ke depan ruang persalinan,
lalu kembali duduk tanpa banyak bicara. Tidak ada hubungan keluarga di antara
mereka. Tidak ada ikatan darah. Namun sejak pagi itu ia memilih tetap bertahan,
seolah ingin memastikan bahwa ibu dan bayi yang sedang berjuang di balik pintu itu
benar-benar selamat.
Waktu berjalan lambat.
Dari balik ruang persalinan terdengar suara langkah para bidan yang hilir mudik.
Sesekali terdengar perintah yang tidak begitu jelas, lalu kembali sunyi. Mat Basur
mencoba berdoa dengan caranya sendiri. Doa yang sederhana. Tidak meminta
kekayaan. Tidak meminta kemudahan hidup. Ia hanya meminta agar istrinya selamat
dan anak yang sedang diperjuangkan untuk lahir itu juga selamat.
Menjelang tengah hari, kesunyian itu akhirnya pecah.
Dari balik pintu ruang persalinan terdengar tangisan seorang bayi laki-laki. Tangisan
itu keras dan nyaring, memenuhi lorong puskesmas yang sejak pagi dipenuhi
kecemasan. Bagi Mat Basur, suara tersebut terasa lebih indah daripada apa pun yang
pernah didengarnya sepanjang hidup. Ia segera berdiri dari kursi plastik yang sejak
tadi didudukinya. Dadanya yang sejak pagi terasa sesak perlahan mengendur,
sementara kedua matanya terus menatap ke arah pintu ruang persalinan yang masih
tertutup.
Tidak lama kemudian seorang bidan keluar sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, Pak. Bayiné lan ibuné selamet.”
(“Alhamdulillah, Pak. Bayinya dan ibunya selamat.”)
Kalimat sederhana itu membuat Mat Basur mengembuskan napas panjang yang sejak
pagi seolah tertahan di dadanya. Di luar, hujan masih turun pelan membasahi
halaman puskesmas yang mulai lengang. Beberapa warga yang tadi ikut mengantar
telah kembali ke pasar untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Hanya Babah Acon yang
masih duduk di bangku kayu dekat jendela sambil menikmati secangkir kopi hangat.
Wajahnya tetap tenang, sama seperti ketika pertama kali menawarkan pikap tuanya
di pasar.
Beberapa saat kemudian bidan itu kembali keluar sambil menggendong bayi kecil
yang masih terbungkus kain bedong. Tampak sekali wajah manusia baru yang
tampan, bersih dengan raut tak berdosa.
“Jenenge sapa, Pak?”
(“Namanya siapa, Pak?”)
Mat Basur tidak langsung menjawab. Ia memandang bayi itu beberapa saat, lalu tanpa
sadar matanya beralih ke arah ruang tunggu. Di sana Babah Acon masih duduk
seperti biasa. Tidak ada sikap merasa berjasa. Tidak ada cerita tentang pertolongan
yang baru saja diberikannya. Bahkan lelaki tua itu tampak lebih sibuk menghabiskan
kopinya daripada memikirkan apa yang telah dilakukannya sejak pagi.
Padahal tanpa dirinya, hari itu mungkin akan berjalan dengan cara yang berbeda.
Tanpa pikap tua yang penuh sisa tepung itu, tanpa kesediaannya mengantar, dan
tanpa keberaniannya meminta petugas puskesmas mendahulukan pertolongan
daripada administrasi, mungkin nasib keluarga kecil itu tidak akan semudah yang
mereka syukuri sekarang.
Mat Basur kembali menatap bayi di pelukan bidan. Dalam benaknya terlintas wajah
Siyem yang sejak pagi menahan rasa sakit, para pedagang yang berlarian mencari
pertolongan, penolakan dari pemilik Kijang Super yang lebih mengkhawatirkan
kebersihan jok mobilnya, dan sosok Babah Acon yang datang tanpa banyak bertanya
lalu membantu tanpa meminta apa-apa.
“Jenenge Muhammad Acon, Bu.”
(“Namanya Muhammad Acon, Bu.”)
Bidan tersenyum sambil menuliskan nama itu.
“Nggo ngormati sinten, Pak?”
(“Untuk menghormati siapa, Pak?”)
Mat Basur memandang ke arah lelaki tua yang masih duduk di ruang tunggu.
“Nggo ngormati wong apik sing wis nulungi keluarga kula dina iki.”
(“Untuk menghormati orang baik yang sudah menolong keluarga kami hari ini.”)
Ia terdiam beberapa saat. Ada rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Pagi itu ia melihat sendiri bagaimana seseorang yang memiliki kendaraan bagus
belum tentu bersedia membantu, sementara seseorang yang hanya memiliki pikap
tua penuh tepung justru rela meninggalkan pekerjaannya demi menolong orang lain.
“Wong miskin kadhang ora butuh wong sugih.”
(“Orang miskin kadang tidak membutuhkan orang kaya.”)
“Sing dibutuhna kuwi wong apik sing gelem nulung tanpa milih-milih.”
(“Yang dibutuhkan adalah orang baik yang mau menolong tanpa memilih-milih.”)
Bidan mengangguk pelan. Nama itu pun dicatat dalam buku kelahiran: Muhammad
Acon. Sebuah nama yang lahir bukan dari keturunan bangsawan, bukan dari
kekuasaan, dan bukan pula dari kemewahan, melainkan dari rasa hormat seorang
petani penggarap kepada seorang pedagang tua yang memilih menjadi manusia
ketika orang lain memilih berpaling.
Seiring berjalannya waktu, sebagaimana kebiasaan masyarakat kampung yang gemar
memendekkan nama menjadi lebih akrab, anak itu kemudian lebih sering dipanggil
Mat Acon. Panggilan sederhana yang perlahan melekat hingga dewasa, menjadi
bagian dari perjalanan hidup yang kelak membawanya bertemu banyak orang dan
banyak peristiwa.
Di luar puskesmas, hujan mulai reda. Gerimis terakhir jatuh perlahan di atas tanah
yang masih basah. Babah Acon menghabiskan kopi terakhirnya sebelum berdiri dan
berjalan menuju parker kendaraan. Mat Basur mendekat mendekati istrinya yang
tengah beristirahat disamping anaknya yang juga sedang terbaring.
Tidak seorang pun mengetahui ke mana jalan hidup anak itu akan membawanya.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari ia akan berjalan dan menyimpan begitu banyak
pertanyaan tentang hidup yang tak selalu mudah dijawab.
Pada hari itu mereka hanya bersyukur karena seorang ibu selamat, seorang bayi lahir
dengan sehat, dan sebuah kebaikan kecil tidak berhenti sebagai kebaikan semata.
Kebaikan itu tinggal dalam sebuah nama, tumbuh bersama waktu, lalu menjadi
bagian dari perjalanan hidup seseorang yang kelak akan dikenal banyak orang
sebagai:
Mat Acon.
Di luar puskesmas, hujan akhirnya berhenti.
Langit yang sejak pagi muram perlahan mulai terang. Orang-orang kembali ke
pekerjaan mereka masing-masing. Para pedagang kembali membuka kios. Buruh
angkut kembali mendorong troli. Becak-becak kembali berlalu-lalang di depan pasar.
Kehidupan bergerak seperti biasa, seolah tidak ada peristiwa penting yang baru saja
terjadi.
Babah Acon menyalakan mesin pikap tuanya dan kembali menuju pasar. Di bak
belakang, sisa-sisa tepung masih berserakan seperti sebelumnya. Tidak ada yang
berubah pada kendaraan itu. Tidak ada yang berubah pada lelaki tua yang
mengemudikannya. Ia tetap seorang pedagang kelontong biasa yang akan kembali
sibuk melayani pelanggan dan mengantar barang dagangan dari satu sudut kota ke
sudut lainnya.
Sementara itu, di sebuah ruangan sederhana puskesmas, Mat Basur menggendong
bayinya untuk pertama kali. Tangannya yang kasar karena cangkul dan lumpur
sawah menopang tubuh kecil yang bahkan belum memahami dunia yang baru
dimasukinya. Di ranjang sederhana di sampingnya, Siyem terlelap kelelahan setelah
perjuangan panjang yang dimulai sejak pagi di kios sempit miliknya di lorong pasar.
Tidak ada warisan tanah yang luas.
Tidak ada tabungan yang berlimpah.
Tidak ada rumah besar yang menunggu untuk diwariskan.
Anak itu lahir dari keluarga sederhana yang selama ini hidup dari hasil sawah
garapan dan dari lembar demi lembar pakaian yang dijual di pasar tradisional.
Keluarga yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi tetap berusaha menjaga
kehormatan, kerja keras, dan rasa peduli kepada sesama manusia.
Tidak seorang pun di ruangan itu mengetahui ke mana jalan hidup anak tersebut akan
membawanya. Mereka tidak tahu bahwa suatu hari ia akan berjalan dari satu kota ke
kota lain, bertemu begitu banyak manusia, mendengar begitu banyak kisah yang
tidak pernah masuk berita, dan menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan sering
kali memperlakukan orang-orang kecil dengan cara yang tidak selalu adil.
Namun semua itu adalah cerita lain.
Untuk saat itu, ia hanyalah seorang bayi yang tertidur tenang dalam pelukan
ayahnya. Seorang anak yang lahir bukan dari kemewahan, bukan pula dari keluarga
terpandang, melainkan dari rumah-rumah sederhana yang selama ini menopang
negeri tanpa pernah disebut dalam pidato-pidato besar.
Namanya dicatat sebagai Muhammad Acon.
Yang kelak lebih akrab dipanggil:
Mat Acon.







