Konawe Utara, Mataconews.id –Siang terik di Site AKP Konawe Utara. Suara alat berat meraung, debu beterbangan, truk hauling lalu-lalang. Di sela bising itu, ada jeda. Sebuah warung kopi berdinding bilik bambu sederhana. Tapi jadi ruang napas bagi para pekerja. Di meja kayu itulah Bang Noval, Direktur Matacon Safeguard, duduk bersila. Di depannya 4 cangkir kopi hitam mengepul dan sepiring ubi rebus. Tak ada PowerPoint. Tidak pula ada notulen. Cuma obrolan lepas setelah timnya kelar sidak lapangan. “Bang, kopi manis lebih enak daripada kopi pahit,” seloroh salah satu anggota tim. Semua ketawa. Bang Noval senyum tipis, nyeruput kopinya pelan. “Kerjaan kita nggak selalu manis, bro,” katanya dengan nada serius. Kalimat ringan itu langsung bikin meja jadi hening sejenak. Karena mereka tahu, Bang Noval nggak sedang membicarakan tentang rasa kopi. Beberapa tim lainnya langsung merapatkan kursi sembari menyimak arahan sang direktur.
Direktur Matacon Safeguard, Bang Noval, menegaskan bahwa pekerjaan penanganan aset tidak dimulai saat unit ditemukan di lapangan. Proses verifikasi dan investigasi awal justru menjadi tahap paling krusial sebelum tim turun ke lokasi. “Kerjaan kita tidak selalu manis. Pekerjaan kita tidak dimulai ketika unit ditemukan atau saat pengamanan dilakukan. Justru dimulai jauh sebelum seseorang tiba di lokasi,” ujar Bang Noval.
Menurutnya, sebelum tiba di lapangan tim wajib melakukan verifikasi informasi awal, pencocokan data, dan memastikan keberadaan unit. Koordinat lokasi juga dicatat secara rinci agar laporan yang disusun dapat dipertanggungjawabkan.Bang Noval mencontohkan, sering kali terjadi perbedaan antara data administrasi dengan kondisi di lapangan. Ada unit yang tercatat masih beroperasi tetapi kenyataannya sudah lama tidak digunakan. Sebaliknya, ada unit yang secara administrasi berada di satu lokasi namun fisiknya sudah berpindah ke tempat lain.
Karena itu, petugas penanganan aset harus memahami siapa yang menguasai aset, siapa penggunanya, kondisi fisik unit, status penguasaan di lapangan, serta apakah unit masih beroperasi.”Masyarakat sering hanya melihat hasil akhirnya. Melihat unit berhasil diamankan atau berita acara ditandatangani. Padahal di belakangnya ada proses panjang, perjalanan berjam-jam, pencarian informasi, klarifikasi berulang, dan pertimbangan agar setiap tindakan sesuai hukum dan prosedur,” jelasnya.
Ia menambahkan, sama seperti rasa kopi pahit yang diminum timnya, tidak semua proses dalam pekerjaan lapangan menyenangkan. Namun dari proses panjang, kesabaran, dan ketelitian itulah keberhasilan penanganan aset lahir,”tambahnya. Untuk diketahui, dalam diskusi itu diakhiri tanpa kesimpulan formal, seiring tim bersiap kembali ke agenda pekerjaan berikutnya. (red)







